10. srpna 2017

Soegeng Soejono: Cekoslowakia membantu saya dapat diploma dan pekerjaan

V češtině si můžete tento rozhovor přečíst zde - Soegeng Soejono: Československo mi umožnilo vystudovat a najít si práci

Siapakah sudah bertemu dengan komunitas orang Indonesia di Republik Ceko, pasti dia ketemu juga Soegeng Soejono yang biasanya dikenal sebagai "eyang". Suatu hari yang indah kami mengopi di café Slavia di kota Praha. Di situ eyang merasa "seperti di rumah". Kami mengobrol tentang zaman dulu di Jawa, tentang waktu dia masih anak dan juga tentang waktu dia memutuskan untuk pndah dari Indonesia ke Ceko.

Pak Soejono adalah salah satu mahasiswa Indonesia yang mendapatkan beasiswa untuk kuliah di universitas di Cekoslowakia. Namun, saat dia kuliah di Cekoslowakia, situasi politik di Indonesia mulai tidak bagus, karena banyak pembantaian terhadap orang-orang komunis atau orang-orang yang terlihat seperti komunis. Situasi itu digambargan dalam sebuah dokumen yang berjudul The Act of Killing. Pada tahun lalu orang-orang Indonesia juga bisa menyaksikan situasi tersebut dalam sebuah filem yang berjudul Surat dari Praha. Filem itu membicarakan topik politik itu dan tentang beberapa orang yang kehilangan kewarganegaraan Indonesia.

Cekoslowakia membantu saya dapat diploma dan pekerjaan

Pada awalnya saya ingin Anda menjelaskan kapan dan di mana Anda lahir dan apa yang Anda bisa bilang tentang keluarga Anda.
Saya lahir di Jawa Timur di kota Madiun pada bulan Juni tahun 1939. Saya berasal dari keluarga besar, karena orang tua saya punya tiga belas anak, dan saya nomor dua belas. Sekarang saya sudah tinggal sendiri, karena yang lain sudah meninggal. Keluarga adalah keluarga dan punya makna yang besar. Tetapi itu pendapat umum di Indonesia. Hubungan keluarga itu di Indonesia penting sekali. Mungkin oleh karena saya punya banyak saudara, saya menjadi orang yang bermasyarakat dan toleran.

Apakah keluarga sebesar ini biasa pada zaman dulu di Indonesia?
Ya, itu biasa waktu itu. Tetapi di sini (di Ceko) dulu juga. Saya tidak tahu kenapa sekarang kebanyakan keluarga di sini tidak begitu besar. Di Indonesia kami biasanya bilang "setiap anak adalah kebahagian". Jadi semakin banyak akan orang punya, semakin dia lebih senang. Menurut saya pada zaman ini susah punya banyak anak oleh karena situasi ekonomi. Tetapi harus juga bilang bahwa kalau orang tidak punya banyak anak, itu juga tidak bagus, karena anak itu nanti lebih cenderung lebih sombong dan intoleran. Jadi, semuanya harus seimbang. 

Apa tentang perbedaan umur Anda dan saudara-saudara Anda? 
Biasanya setiap dua tahun ada anak baru. 

Dan apa pekerjaan orang tua Anda? Ibu pasti ibu rumah tangga, tetapi apa yang dikerjakan oleh bapak? 
Ibu mengurus anak-anak dan bapak bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahan nasional. Kami tinggal di kota yang kecil, namanya Magelang, dekat Yogyakarta.

Soegeng Soejono dengan teman serumah pada waktu mereka kuliah di Praha
Saat ini Magelang sudah menjadi kota besar... 
Saya tahu, sekarang sudah luas. Tetapi kehidupan di kampung adalah kehidupan yang lebih nikmat daripada di kota besar. Saya punya banyak teman di sana dan saya sering bermain dengan mereka, jadi saya anak yang sangat berbahagia. Saya masuk SR, SMP di sana dan pada tahun 1958 saya lulus. 

Dan setelah itu Anda langsung pindah ke Cekoslowakia? 
Belum, karena orang tua saya sudah tidak punya cukup uang mendukung saya untuk kuliah, saya pindah ke Jakarta dan saya kuliah di sana sambil bekerja. Itu susah, jadi saya ingin mendapatkan beasiswa. Akhirnya saya dapat beasiswa pada tahun 1963 dan saya bisa pergi ke Cekoslowakia dan kuliah di sana. Sejak saat itu saya sebenarnya tinggal di sini, karena pada tahun 1965 di Indonesia menjadi Orde Baru dengan apa yang saya tidak setuju, jadi saya tidak boleh pulang. 

Mengapa Anda tidak boleh pulang? 
Kalau saya pulang, saya masuk penjara atau saya dibunuh. Pada saat yang sama, visa saya tidak diperpanjang lagi di Kedutaan Besar Indonesia, jadi saya dengan teman-teman saya di situasi yang sama minta suaka politik di Cekoslowakia. Negara ini membantu saya lulus universitas dan dapat pekerjaan. 

Saya ingat satu wawancara Indonesia di mana Anda bilang bahwa Anda adalah "orang terbuang". Itu pasti sangat susah...
Orang yang cinta negaranya dan dengan tiba-tiba dia harus berhenti kontak dengan negara itu, pasti mengalami kesulitan yang besar pada awalnya. Tetapi yang penting adalah kalau orang itu punya ide pribadi dan mau bankit. Rezim di Indonesia tidak peduli tentang HAM sama sekali. Orang komunis dibunuh dan orang yang waktu itu berkuasa melakukan apa yang mereka mau, tanpa dasar hukum. Rezim itu punya kuasa, uang, senjata. Jadi mereka bebas melakukan apapun. 

Jadi Anda berumur 24 tahun waktu Anda keluar Indonesia. Apakah Anda ingat perasaan waktu Anda pertama kali keluar negara Anda? 
Sebelum itu saya belum pernah keluar pulau Jawa. Kami bahkan tidak tahu apapun tentang Cekoslowakia. Untuk saya tidak penting ke mana saya akan pergi, yang penting saya bisa kuliah secara gratis. 

Bagian dunia barat pasti adalah sangat berbeda daripada Indonesia...
Waktu itu semua orang tahu tentang London, Roma, Paris... yaitu Eropa Barat. Tetapi apa yang ada di Timur kami tidak tahu sama sekali. Sekarang itu berbeda, kota Praha sudah terkenal di Indonesia, karena banyak petualang mampir di sini dan memutuskan bahwa ini kota indah dan lebih murah daripada destinasi di Barat yang disebut. Kami datang ke tempat yang sangat berbeda. Itu terjadi pada tanggal 10 September dan menurut orang Ceko cuacanya masih hangat. Tetapi kami kedinginan. Kami adalah tigapuluh dua mahasiswa dan setiap mahasiswa dapat jaket setelah keluar bandara. Lalu kami dibawa ke asrama. Situasi sudah gelap pada saat itu, karena kami datang pada malam, jadi saya tidak bisa lihat apapun dari mobil. Seingat saya, di pesawat kami dapat makanan Eropa, termasuk roti, tetapi kami tidak suka. Saat ini saya sudah tahu bahwa roti adalah makanan yang paling bagus di Ceko. 

Apa yang paling sulit untuk Anda di Cekoslowakia pada tahun-tahun yang pertama? 
Ya, walaupun semuanya baru bagi saya, namun saya bisa menyesuaikan diri. Jadi semuanya tidak sulit untuk. Sepuluh bulan yang pertama kami ikut kursus bahasa Ceko dan juga belajar tentang budaya Ceko. Setelah dua semester ada ujian dan setelah itu kami mulai kuliah di Universitas. Pada awalnya saya bermasalah dengan hubungan antar personal, karena saya pikir bahwa di sini orang sama seperti di Indonesia - terbuka dan ramah. Tetapi lalu saya memutuskan bahwa itu tidak bisa bilang seperti ini. Ada yang ramah dan terbuka, tetapi juga ada yang kurang. Di sisi lain, saya tidak bermasalah dengan siapapun. Kalau saya ada di luar negeri, itulah saya siapa yang harus mengadaptasi, bukan orang lokal. Jadi pentingnya belajar tentang tradisi dan kebiasaan di sana, apalagi bisa bahasanya. Itu yang paling penting.

Keluarga besar memiliki pesona

Mari kita kembali ke topik Jawa. Ada sesuatu yang Anda dulu belajar di Jawa dan sampai sekarang Anda masih pakai?
Waktu saya kecil, semua orang bilang bahwa saya harus baik, karena orang yang baik nanti juga dapat yang dia perlukan. Jadi saya sering membantu orang yang lebih tua dan saya selalu dapat rezeki. Bukan uang, tetapi hal-hal ajaib yang muncul di kehidupan saya. Dan sampai sekarang saya percaya, bahwa kalau orang melakukan sesuatu yang baik, dia nanti akan dapat juga. 

Artinya Anda adalah anak yang teladan...
Tidak begitu. Saya mungkin sedikit nakal, tetapi baik. Waktu saya kembali ke Indonesia, semua teman-teman atau keluarga saya suka mengingatkan masa lalu dan mereka bercerita tentang kenakalan saya, tetapi dengan senyum dan bangga.

Bagaimana caranya anak-anak bermain di Jawa zaman dulu? 
Setiap bagian Indonesia punya tradisi dan permainan yang berbeda-beda. Di tempat saya kami biasanya bermain sepak bola. Permainan ini sangat digemari di seluruh Indonesia. Termasuk bulu tangkis atau ping pong.

Saya dengan eyang pada hari kemerdekaan di KBRI Praha
Keluarga Anda besar. Apakah Anda harus membantu di rumah? 
Ya, tetapi itu ciri-ciri keluarga besar. Karena di sana ada kehidupan sosial yang tinggi dan toleransi yang besar. Untuk orang Indonesia adalah respek kepada orang tua dan orang yang lebih tua paling penting. 

Saya bisa melihat di Indonesia, bahwa kalau ada anak nakal, dia biasanya tidak dipukul. Apakah itu trend baru sekarang, misalnya oleh karena agama Islam, atau itu selalu seperti ini? 
Bapak saya harus punya ketegasan, karena dia punya tiga belas anak. Misalnya, setelah makan siang biasanya orang di Jawa ingin istirahat. Bapak saya juga. Saya ingat waktu dia mau tidur, dekat tempat tidurnya ada gesper. Kalau dia diganggu oleh anak, dia langsung pakai gesper itu dan pukul anak ke pantat. Jadi hukuman fisik juga normal di sana, tetapi biasanya orang tua mencoba berbicara dengan anak dulu. Saya harus bilang, bahwa sejak saya punya anak sendiri, saya tetap berpikir bahwa bapak saya pukul saya kurang sering. 

Jadi yang pukul adalah hanya bapak? 
Ya, hanya bapak. Ibu mencubit kami. Dia adalah pencubit yang terkenal, tetapi dia jarang melakukan itu. Dia cukup menakut-nakuti dan kami berlari. 

Hari ini orang biasanya memasak di rumah, tetapi kadang-kadang makan juga di warung. Dulu tidak ada begitu banyak warung, bukan? 
Kami memasak di rumah, makan bersama. Semuanya kami bikin sendiri, bukan seperti sekarang kapan ada warung di setiap pojok. Kami makan nasi, sayur-sayuran dan kadang-kadang danging.

Islam KTP

Anda berasal dari keluarga islam, tetapi Anda punya pendapat yang sangat spesifik. Bisa Anda menjelaskan itu? 
Saya adalah orang Islam. Tetapi Islam KTP. Karena menurut saya agama adalah sesuatu yang pribadi dan saya tidak suka kalau ada peraturan yang bilang apa yang saya harus lakukan. Saya, sebagai orang Islam dan sebagai orang yang percaya Tuhan, juga percaya bahwa di dunia adalah energi dan Tuhan adalah puncak energi itu. 

Apakah keluarga Anda juga berpendapat seperti itu? 
Keluarga saya adalah Islam Jawa. Itu namanya kejawen. Itu termasuk energi yang disebut. Jadi oleh karena itu, walaupun saya orang Islam, saya juga kejawen. Saya lahir sebagai orang Islam, karena saya tidak bisa memilih sendiri. Saya masuk sekolah Islam dan lalu juga sekolah Kristen, karena menurut bapak saya itulah sekolah yang lebih berkualitas. Itu adalah contoh toleransi yang selalu ada di Jawa. Oleh karena itu saya tidak bisa mengerti gesekan agama yang ada di sana sekarang. Saya juga ikut berdoa dengan orang Buddha dan Hindu, karena saya tinggal dekat Borobudur di mana sering ada upacara. 

Pasti itu sangat berubah di Jawa...
Ya, sangat. Mungkin itu oleh karena politik, tetapi itu menyedihkan, karena di Indonesia dulu Islam selalu toleran. Tetapi sekarang menurut saya sudah tidak begitu toleran. Sayangnya. Apalagi untuk para orang Islam di Indonesia kejawen bukan orang Islam.  

Apa tentang ilmu hitam?
Ya, itu ada. Sama seperti ada kebaikan dan keburukan, keberadaan ilmu putih dan ilmu hitam tidak bisa disangkal. 

Apakah Anda punya pengalaman terhadap ilmu hitam?
Tidak, tetapi di sekitar saya sering ada. Itu misalnya seperti orang kesurupan yang kadang punya prilaku yang aneh. Sering orang pakai ilmu hitam untuk balas dendam. Kalau saya di Indonesia, saya percaya itu. Tetapi kalau saya di Ceko, saya kurang percaya. Itu oleh karena energinya yang di Ceko sudah hampir tidak ada, karena orang Ceko tidak punya waktu untuk pikiran tentang energi ilmu hitam.

Setahu saya, orang di Jawa juga percaya gugon tuhon. Ada yang Anda ingat? 
Umpamanya tidak boleh berdiri persis di bawah pintu. Itu logik - karena di situ ada angin. Dan di mana ada angin, ada penyakit. Atau anak tidak boleh jalan pada malam sendiri, karena itu berbahaya untuk dia. Tetapi orang Jawa percaya, bahwa kalau anak pergi sendiri, dia akan diambil oleh hantu. Artinya, kalau orang mendengar cerita-cerita ini sering, dia akan mulai percaya itu. Misalnya, di Ceko saya tidak sholat. Tetapi kalau saya di Indonesia, setelah beberapa minggu saya ikut ke masjid juga. Mungkin karena saya tidak mau terlihat berbeda. Itu sama dengan banyak cewek mudah di Indonesia yang berjilbab. Karena mereka tidak mau terlihat berbeda. 

Ini mungkin pertanyaan yang susah, tetapi bagaimana Anda bisa mengambarkan Jawa zaman dulu? 
Tidak, itu pertanyaan mudah. Zaman dulu Jawa lebih indah. Orang-orang saling punya waktu dan mereka lebih menghormati orang yang lain. Sekarang semua orang berfokus hanya diri, mungkin oleh karena teknologi. Bukan seperti dulu, kapan orang ingin membantu orang yang lain. Tetapi itu sama di Ceko. Itu oleh karena globalizasi. Zaman dulu di Jawa indah sekali. Di Madiun ada SR dekat rumah, tetapi di Magelang saya naik sepeda ke sekolah. Kami tidak punya sepeda motor atau mobil. Ya, itu lebih indah.

Sekarang semua orang punya sepeda motor...
Sepeda motor untuk Indonesia adalah maksiyat. Itu tidak bagus untuk polusi dan orang sudah malas jalan kaki. Mereka lebih dan lebih malas. 

Soegeng Soejono dengan istrinya, tahun 1971

Tidak boleh berbicara dengan orang tua dalam bahasa Indonesia

Apakah Anda pakai bahasa Jawa di rumah? 
Ya. Saya mulai belajar bahasa Indonesia baru di sekolah. Di antara teman kami biasanya pakai bahasa Jawa dan juga bahasa Indonesia. Bahasa Inggris saya mulai belajar di SMP. Tetapi itu kurang bagus, jadi saya tidak bisa belajar semuanya. Oleh karena itu, kalau orang Indonesia ketemu bule, mereka mau belajar bahasa Inggris. Di rumah kami pakai bahasa Jawa, karena bahasa Indonesia memalukan. Bahasa Jawa lebih penting. Itu juga berbea daripada sekarang. Sekarang mereka biasanya pakai bahasa Indonesia. 

Apa tentang perempuan asli Jawa? 
Perempuan cantik di seluruh dunia. Tetapi ibu saya tidak mau saya menikah dengan WNA, dia ingin saya dapat orang Jawa. Tetapi saya sudah bilang, bahwa saya anak nakal - apa yang dilarang, saya mau lakukan. Di Ceko saya menikah dengan orang Ceko, dari region Morava. 

Kapan Anda boleh kembali ke Indonesia? 
Pertama kali saya kembali ke Indonesia setelah tiga puluh lima tahun, yaitu pada tahun 1998. Waktu itu saya masih khawatir, karena situasi di Indonesia belum aman untuk seratus persen. Saya pergi sendiri, tanpa istri. Setelah puluhan tahun saya sudah merasa seperti orang asing di negara saya, apalagi istri saya. Dia pergi ke sana pada tahun 2006. Tetapi dia tidak suka cuaca panas, jadi dia tidak mau pergi ke sana lagi. 

Bagaimana reaksi orang-orang di sana? 
Mereka bersemangat. Saya bertemu banyak orang dari keluarga saya pertama kali, karena mereka lahir setelah saya pindah ke Cekoslowakia. Anehnya, saya masih ingat bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. 

Anda di luar negeri sangat lama. Apakah Anda bisa duduk dengan orang lokal di warkop, mengopi dan mengobrol tentang topik biasa, walaupun mereka tidak pernah keluar Indonesia? 
Saya biasanya bilang, bahwa saya lahir sebagai orang Indonesia, jadi saya adalah orang Indonesia untuk selamanya. Jadi tidak ada masalah dengan orang-orang di sana. Itu sama seperti waktu saya baru di Cekoslowakia dan saya tidak bisa mengerti mengapa orang Ceko bisa menghabiskan banyak waktu di pub. Tetapi setelah beberapa waktu saya mulai suka juga. Jadi, kalau orang ingin benar-benar suka atau cinta sesuatu, dia perlu mengetahui dulu. Anggapan yang salah tidak ada gunanya. Orang yang tidak menyalahkan atau mengadili, punya kehidupan yang lebih mudah. 

Anda punya dua anak laki-laki. Tetapi Anda tidak mengajar mereka bahasa Indonesia...
Tidak, karena waktu mereka masih kecil, saya sejujurnya tidak tahu apakah saya akan kembali ke Indonesia. Kami tidak punya hubungan dengan Indonesia sama sekali. Mungkin mereka akan memutuskan sendiri kalau mereka mau belajar bahasa itu. 

Mari kita selesai wawancara ini dengan pertanyaan yang berbeda. Apakah Anda bisa bilang satu penulis Ceko dan satu penulis Indonesia yang Anda paling suka? 
Kalau penulis Indonesia, saya sangat suka Pramoedya Ananta Toer. Dan penulis Ceko? Karel Čapek

Terima kasih atas membaca artikel ini dan mohon maafkan lah bahasa Indonesia saya. Wawancara ini diterjemahkan dari bahasa Ceko, karena itulah bahasa ibu saya dan juga bahasa yang eyang sudah lancar. Makasih ya, jangan lupa menulis komentar atau share, share dan share. :) 
Publikováno:

Nikol Haris Šenkyříková (Autorka a průvodkyně)

Mé jméno je Nikol, ale na internetu mě můžete najít také pod přezdívkou Nikolas. Jsem absolventkou oboru Indonesistika, který se zabývá komplexním studiem Indonésie (od etnologie, přes politiku až po jazyk). Rok 2013/14 jsem strávila na Bali, kde jsem studovala indonéštinu v rámci programu Darmasiswa. Na těchto stránkách zaznamenávám své zážitky a postřehy z indonéského prostředí a funguji jako průvodce po Bali, Lomboku, Jávě a dalších.

0 komentářů:

Pokud nemáte účet Google, vyberte možnost "Komentovat jako: Název/adresa URL" nebo "Anonymní", ale v tom případě se, prosím, na konec vašeho komentáře podepište. Děkuji.

Coprights © 2013 - 2016 Nikol Haris Šenkyříková, Blogger Templates Designed By Templateism | Templatelib